Dear sahabat,
Ini sebuah cerita tentang seseorang yang gamang akan pilihannya, hidupnyaa dan perjuangan beratnya.
Alea, pulang sekolah siang itu. Membanting tasnya ke atas tempat tidur, dengan wajah penuh tekukan ia menuju meja belajar, menyalakan computer dan memulai koneksi internetnya. Hal yang selalu menjadi pelarian saat ia BETE. Komputernya langsung menampilkan sebuah search engine yang popular. Ia mengetik kata ‘bosan sekolah’. Alea bête, alea marah dan alea bosan dengan sekolahnya. Dengan guru-guru yang tiada henti memberikan tugas dan ujian. Dengan teman-temennya yang sudah semakin berubah akhir-akhir ini. Dan sebuah tulisan inilah yang ia temukan
Gw bosan sekolah..
Benarkah? Ato sebenarnya gw bosan menjadi anak sekolahan. statement kedua lebih gw pilih. Gw bosan menjadi murid yang bergantung pada orang tua soal uang bulanan, gw bosan menjadi anak sekolahan yang nggak bisa ngapa-ngapain tanpa uang kiriman orang tua, gw bosan, benar2 bosan harus ngerepotin mereka. Gw bosan kalo terus membelanjakan uang mereka, gw capek terus membuat mereka berjuang dan berkorban demi gw. Gw makin hari makin nggak bisa menerima bahwa mereka menderita karena gw. Rumah gw di jual karena gw. Ibu gw harus jualan ampe malam karena gw. Ayah gw berhenti bekerja karena gw. Adek gw nggak bisa dapet perhatian dan kasih sayang dari orang tua gw karena gw, padahal dia masih kecil dan itu haknya. Semua itu karena gw.. karena gw kuliah…karena gw terus sekolah.
Lalu benerkah gw ingin lepas dari ini semua? Gw sendiri juga bingung. Apa benar gw tega membohongi mereka dan mulai bekerja? Apa benar gw sanggup menyia-nyiakan perjuangan dan pengorbanan mereka dan bekerja tanpa gelar? Apa benar gw tega menghancurkan mimpi mereka untuk melihat gw diwisuda dengan predikat Cumlaude? Apa iya gw sanggup melihat mereka menangis saat gw bilang ‘Yah, aku pengen berhenti kuliah dan kerja aja’? apa iya gw bisa ngebahagiain mereka dengan meninggalkan bangku kuliah ini? Seberapa malu mereka pada tetangga saat tau anaknya batal jadi sarjana?
Gw terlahir sebagai nomor dua, nggak pernah ada harapan bagi gw dari keluarga sejak kecil. Gw tumbuh, menjalani sekolah, meraih apa yang gw pengan raih, menuju apa yang emang gw pengen tuju sesuka gw. Tanpa beban, tanpa ekspektasi lebih dari keluarga bahkan orang tua gw jarang datang bwt ngambil raport ke sekolah bahkan bwt liat peringkat berpa sih gw semester ini di sekolah pun jarang.
Semua baik-baik aja. Gw dapetin apa yang gw maw, gw raih apa yang gw pengen, gw nggak pernah peduli banggakah orang tua gw? Peduli kah orang tua gw. Lalu semua berubah saat gw di bangku kuliah. gw di sini karena keinginan gw, gw menuju apa yang gw ingin tuju. Di sini, di sebuah kota yg gw harap memberi banyak hal bagi gw, termasuk kesuksesan. Tapi semua ini kini berbeda. Gw di kota ini juga karena perjuangan mereka, karena gw memberikan sedikit derita ke mereka saat gw mulai butuh laptop bwt kuliah, saat gw butuh duit bwt beli buku-buku untuk kuliah saat gw kehabisan uang bulanan untuk makan, gw menyiksa mereka. Dan puncaknya rumah gw dijual, alasan paling logis pendidikan gw butuh dana, kuliah gw butuh duit. Dan sekarang mereka tinggal di rumah yang nggak sebagus dulu, di rumah yang nggak sebesar dulu, di rumah yang nggak senyaman dulu. Semua kerena gw karena gw di sini dan karena gw terus sekolah. Ibu gw yang semula ibu rumah tangga sejati harus bekerja hingga larut malam. Ayah gw yang sakit-sakitan sekarang nggak bisa ke dokter dengan teratur, karena kami nggak punya uang seperti dulu dan lagi-lagi semua karena gw kuliah dan gw terus sekolah.
Hampir dua tahun gw menyimpan ini semua, gw bingung, gw merasa bersalah, gw merana dan gw sebenarnya tersiksa.
Beberapa bulan lalu gw baru aja pulang ke rumah, melihat apa yang selama ini gw bayangin, gw sesalin dan gw makin tak bisa berkata-kata. Gw nggak hanya merasa berslah, tapi gw benar-benar bersalah. Saat gw dengar ibu gw bilang nggak ada yang perlu disesalin tapi dia takut suatu saat nanti dia nggak bisa lagi nyari duit bwt sekolah gw. Gw makin gamang dan hancur. Hati gw benar-benar hancur. Mereka nggak pernah punya salah apa-apa punya anak seperti gw, ibu gw nggak pernah punya salah apa2 karena ngelahirin gw. Dia orang yang baik, dia ibu terbaik yang pernah gw kenal. Kenapa gw ngerepotin mereka akhir2 ini? Orang yang bertahun2 dulu gw anggap bukan apa2. Saat gw mulai menganggap mereka berarti, saat gw mulai sayang mereka, gw membebani mereka. Menyesalkah gw? Entahlah, satu yang jadi obat hati bagi gw bahwa gw berada di jalan yang benar. Gw punya Allah yang pasti bisa jagain keluarga gw sebaik-baiknya dan juga jagain gw sepanjang wktu. Gw nggak punya materi apa-apa, gw sampai pada titik dimana gw nggak bisa ngapa2in, titik dimana gw tak berdaya atas semua ini.
Di tahun pertama gw pernah strees, saat berpikir mengapa ini terjadi kepada gw? Kenapa gw bukan anak pejabat yang nggak punya masalah ama materi. Yang kalo butuh duit tinggal minta, yang kalo kurang uang belanja tinggal minta, yang saldo di tabungannya nggak pernah habis. Lalu gw berpikir apakah materi berbanding lurus dengan cinta dan kasih sayang keluarga gw buat gw. Kalo gw anak pjabat mungkin gw nggak kan punya ibu yang rela kerja sampe malam untuk nyari duit bwt sekolah gw. Seorang ibu yang pantang menyerah, seorang ayah yang sabar dan tabah. Cinta dan kasih sayang mereka lebih dari apapun bagi gw.
Gw benci kenapa gw mengangis karena gw nggak punya duit bwt makan, mengapa gw sedih karena nggak punya uang buat beli baju padahal gw memperoleh cinta dan kasih sayang tanpa batas yang mungkin Paris Hilton pun nggak pernah dapat dari orang tuanya. Gw punya orang-orang yang cinta dan sayang ama gw, meski mungkin gw nggak punya materi yang berlebih.
Gw nggak akan pernah bosan sekolah.
Karena keluarga gw nggak pernah berhenti berjuang untuk sekolah gw. Orang tua gw nggak pernah berhenti mencintai dan menyayangi gw. Dan Gw juga sadar sesadar-sadarnya bahwa gw juga nggak ingin berhenti berjuang dan akan terus mencintai dan menyayangi mereka.
Selagi gw masih punya waktu dan kesempatan ini
Gw akan membahagiakan mereka….
Alea tertegun, menarik nafas lalu tersenyum. Ia menyesal telah pernah berpikir bosan untuk sekolahnya. Padahal ada seseorang di luar sana yang harus banyak berkorban dan berjuang untuk kuliah, untuk terus sekolah. Alea juga tak mungkin bosan sekolah, karena ia juga tak ingin berhenti berjuang dan terus membahagiakan bunda. Mewujudkan impiannya kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di negeri ini. Alea bangkit dari duduknya dan mengambil buku kumpulan soal SNMPTN yang beberapa hari ini ia cuekin.
Mereka punya cerita berbeda, cita-cita berbeda, alasan berbeda dan kondisi yang berbeda. Tapi, yang penting mereka sama-sama nggak akan bosan sekolah dan tak pernah berhenti berjuang.