untukmu

aku bercerita padamu
tentang ribuan waktu yang telah kulalui
tentang ratusan orang yang telah kutemui
tentang puluhan tempat yang telah kudatangi
tentang beberapa cinta yang juga telah kudapatkan
sejak kita tak lagi bertemu muka

aku sendiri
menikmati setiap detik yang berputar
aku sendiri
meratapi semua duka yang bergulir
dan aku juga sendiri
menikmati sepenggal kebahagiaan yang datang

kau di sana
di tempat mu berdiri

ku ingat kata-katamu dulu
kau akan selalu di sana
melihatku
memandangku
dan siap untuk ku
kapan saja

ribuan detik bergulir melewati kehidupan ku
kau masih bilang
kau ada di sana
melihat ku
memandangku
dan siap mendengarkan seluruh
keluh kesahku

berkali-kali musim berganti
kau selalu berpesan
kau ada di sana
mendukung setiap langkah ku
menyemangati ku
dan
siap menenangkan aku
dengan ribuan kalimat bijaksana

tapi
tahu kah kau
air mata ini tak bisa kau hapus
senyuman ini tak dapat kau lihat
gelak tawa ini juga tak bisa kau pandang

ku akui
sebentuk keraguan yang menyelinap
membuatku gila
membuatku bimbang
membuatku takut

aku takut kau tak lagi di sana
aku takut kau bergeser dari orbitmu
aku takut posisi mu berubah
bahkan jika hanya satu derajat saja

aku takut

ku ingin kau tetap di sana
ku ingin kau selalu di sana
hingga ribuan waktu datang melewati kita
hingga puluhan tahun sejak hari ini

ku ingin kau selalu di sana
siap untukku
kapansaja

egoiskah aku?

Crazier….

Crazier

I’ve never gone with the wind
Just let it flow
Let it take me where it wants to go
Til’ you opened the door
And there’s so much more
I’d never seen it before
I was tryin’ to fly but I couldn’t find wings
But you came along and you changed everything

You lift my feet off the ground
You spin me around
You make me crazier crazier
Feels like I’m falling and I
I’m lost in your eyes
You make me Crazier Crazier Crazier

I watched from a distance as you
Made life your own
Every sky was your own kind of blue
And I wanted to know how that would feel
And
you made it so real
You showed me something that I couldn’t see
You opened my eyes and you made me believe

You lift my feet off the ground
You spin me around
You make me crazier crazier
Feels like I’m falling and I
I’m lost in your eyes
You make me crazier crazier crazier

Baby you showed me what livin’ is for
I don’t wanna hide anymore

You lift my feet off the ground
You spin me around
You make me crazier crazier
Feels like I’m fallin and I
I’m lost in your eyes
You make me crazier crazier crazier
Crazier Crazier


salah satu lagu taylor swift di film hannah montana the movie.
saia suka ngedengerin lagu ini
entah karena suara miss swift ini yang oke
musikny yang ringan
liriknya yang sedrhana
or
am i falling in love?
hehehe
kita tidak akan membahas itu hari ini

saia akan sedikit bercerita tentang cinta, sedikit wawasan yang saia peroleh sejauh hidup yang telah saia lewati.
saia percaya cinta, sangat-sangat percaya. cinta allah membuat saia masih tetap menghirup udara, cinta ayah dan bunda
membuat saia ada. cinta para sahabat membuat saia masih bisa tersenyum hingga detik ini. cinta nya
membuat saia tetap bersemangat hingga hari ini.
Lalu, apa ada alasan untuk mengingkarinya?

Namun sayang, begitu banyak orang yang akhirnya berujung tragis cuma karena lima huruf sakti ini.
para remaja yang depresi putus cinta
para pemuda-pemudi yang bunuh diri dikhianati cinta
para anak durhaka yang kerasukan cinta

bukankah cinta yang benar itu, positif dan memberikan manfaat
seharusnya tak ad anak yang meninggalkan orang tua hanya karena kekasihnya
seharusnya tak ada anak2 tak berayah
para wanita yang menderita
para pria yang putus asa

jika cinta membuatmu
susah
sulit
menderita
terbebani
dan ribuan kata sepadan lainnya

coba tanya dan renungkan, benarkah itu cinta?

menunggu SAAT TERAkhir

mengenal dia beberapa tahun lalu
hanya pembicaraan beberapa puluh menit cukup bagiku
untuk tahu bahwa dia orang yang terlahir istimewa
aku dan dia bagai dua dunia yang kala itu tak mungkin
punya waktu untuk bertemu kembali
saling menyapa lagi
dan merajut pertemanan

takdir itu begitu misterius
dua tahun lalu
kembali menemukan sosok ny dan senyum khas itu
di perguruan tinggi di sebuah kota yang terlanjur terkenal
cukup untuk membuatku sadar bahwa
dia memang terlahir jauh lebih istimewa
berada di tempat yang sama
kembali menikmati keahliannya
dan tetap beserta senyum khas itu
masa yang tak mungkin ku anggap biasa

20 hari lagi
saat ku yakin
bahwa kembali datang takdir
akan membawa dia ke mimpi yang lebih baik
cita-cita yang lebih tinggi

kuyakinkan diri
bahwa dia memang terlahir istimewa
semoga kehidupan istimewa juga menantinya

satu pesan ku untuknya

“nice to meet you

hope

we will meet again”

sepucuk surat cinta dari hati yang terlanjur putus asa

saat membaca surat ini,
mungkin kau sedang sibuk dengan
ribuan aktifitas mu
yg tak pernah ada habisnya
(‘bukankah setiap surat selalu dimulai
dengan kalimat sejenis ini)
Tak pernah ada yg berubah dari
diriku,sama dan tetap sama.
tapi, aku tak kan mungkin bisa mengingkari
bahwa hati ini mulai putus asa
menghadapi kebosanan satu demi satu

aku menyerah
pada rasa yg terlanjur besar
pada harapan yg terlalu tinggi
akan sesuatu yg akan di bawa waktu
kembali bersama

begitu banyak ‘terlalu’ yang akan menghiasi keinginan ku ato dulu pernah menjadi keinginanmu
terlalu naif
terlalu sulit
terlalu jauh
terlalu banyak perbedaan

di atas semua itu
terlalu tak mungkin

semua hal yang tahun demi tahun datang menghampiri dan memaksa ku untuk menyerah
menyerah untuk menghadapai mu
menyerah untuk berharap lagi
menyerah untuk bertemu

salahkah bila aku putus asa
akan cinta yang tak tau ujungnya

selamat jalan

Aku pernah bermimpi menjadi bintang

Yang bisa menemani gelapnya malammu

Aku pernah ingin menjadi bulan

Yang beri kehangatan ditengah dinginnya malam

Aku pernah berniat menjadi mentari

Yang menyambut mu di kala pagi

Yang melihat senyumanmu di pagi hari

Aku pernah ingin menjadi langit

Untuk menaungi hidupmu

Melindungimu dan menjaga mu

Aku pernah bermimpi menjadi bumi

Tempat mu berpijak, tempat mu bertahan dan sebagai tempatmu hidup

Aku pernah berangan menjadi hujan

Untuk membasuh luka yang pernah ada di hatimu

Menyiram tandus dan gersangnya jiwamu

Aku pernah bermimpi menjadi melodi

Yang selalu menemani lagu hidupmu

Mungkin menjadi simfoni indah

Mungkin juga menjadi nyanyian merdu

Atau menjadi sebuah tembang sendu

Aku pernah ingin menjadi laut

Tempatmu berlabuh

Tempatmu berusaha melawan badai

Tanpa putus asa

Berjuang

selalu dan selalu

Bunda…

Kini, aku hanya ingin menjadi anakmu

Dan buat kau bangga akan ku

seuntai asa untuk orang yang kucinta

Ku ingin dia selalu bisa bangun di pagi hari

Memandangi indahnya fajar di kala subuh pergi

Menikmati kilau senyuman mentari

Ku ingin dia tetap bisa menhirup sejuknya udara pagi ini

Membaui nikmatnya tanah setelah hujan di penghujung tahun ini

Merasakan sejuknya embun di pelupuk daun

Sahabat, mengertikah kau tentang cinta ku padanya

Besarnya kasih ku hanya untuknya

Hanya untuk melihat senyuman kembali di wajahnya

Meski penyakit tak pernah absen menjambanginya

Aku ingin dia tersenyum

Mungkin hanya untuk membuat ku lega

being nothing

Menjadi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Mungkin itulah yang dulu penah saia impikan di kala kecil menginjak remaja. Saat itu, saia sangat senang melihat orang lain senang. Turut sedikit sedih jika ada yang tertimpa kemalangan. Tapi tak pernah terniat untuk benar-benar merasakannya. Yah, menjadi bukan siapa-siapa. Menjadi seorang penonton yang invisible dan dapat muncul sesukanya juga menghilang semaunya.

Memang kedengaran seperti seseorang yang takut mengemban tugas dan fobia responsibility. Tapi, saia menikmatinya. Itu cara tergampang menjalani hidup menurut saia kala itu. Kamu gak harus pusing dengan masalah teman-teman mu, cukup dengarkan dan tersenyum jika itu berita bahagia.  cukup dengarkan dan diam jika itu berita buruk. Penonton adalah peran yang paling mudah, hanya menonton, hanya terbawa suasana, hanya terbawa emosi tanpa pernah benar-benar mengalaminya dan terbebani. Cita-cita konyol yang dulu pernah saia inginkan.

Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang saia lihat, mngerti dan pahami (meski belum seberapa). Saia mulai merasa sia-sia jika hidup hanya untuk menjadi bukan apa-apa. Being nothing, terasa sebagai pilihan konyol bagi saia. Menginjak usia remaja, kala pencariaan jati diri adalah judul utama kehidupan. Saia merasa bimbang dan ragu. Apa cukup dengan hanya menjadi penonton? Apa cukup dengan tersenyum saat melihat orang berhsil? Apa saia akan puas hanya jadi penonton saat teman sebaya saia dikalungkan medali karena prestasinya?Saia sama dengan mereka, makan nasi, tidur di kasur dan minum air. Kenapa saia gak bisa menjadi seseorang seperti mereka, berhasil, sukses merasakan sulitnya perjuangan dan manisnya keberhasilan.

Menyelesaikan bangku sekolah, rival dan saingan adalah motivasi terbesar saia. Tak ingin disaingi, menyenangi taruhan dan mengagungkan pengakuan. Hal yang membuat saia terus berusaha, lebih dan lebih. Saat kemudian meninggalkan bangku sekolahan, saia memasuki dunia dimana begitu banyak pilihan, begitu banyak jalan, begitu sedikit saingan yang benar-benar spesifik, motivasi itu mulai menguap. Apa karena saia mulai dewasa, makin realistis tapi bukankah orang dewasa itu penuh semangat dan pantang putus saia? Lalu kenapa saia mundur dan berjalan berlahan.

Saia menemukan jawabannya. Karena saia berpura-pura ingin  menjadi seseorang padahal saia memilih jalan dan bertingkah seperti orang yang ingin menjadi bukan siapa-siapa dan being nothing.

Untuk menjadi seseorang butuh modal, usaha, skill, doa, kerja keras dan niat. Diatas semua itu, perlu keyakinan bahwa kita bukan nothing, bahwa kita adalah sosok yang berarti paling tidak bagi satu orang di dunia yang luas ini. Paling sederhana, setiap orang adalah anak yang paling berharga bagi orang tuanya.

ulang tahun

Dear sahabat, ini cerita tentang ulang tahunku yang selalu pumya cerita tersendiri.

Dua puluh tahun sudah, saia menjalani hidup. Tanpa terasa dua puluh kali pula saia telah mengalami pertambahan umur yang lazim disebut ulang tahun (padahal tahun tak pernah berulang). Dari dua puluh kali ulang tahun itu, banyak diantaranya lewat begitu saja. Karena saia lupa, ataupun karena lebih baik tidak mengingatnya. Dari begitu banyak yang terlewatkan, ada beberapa ulangtahun yang masih melekat di benak saia

1.Ulang tahun ke-11 Saat itu saia duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Pada zaman itu, ulang tahun adalah bencana karena akan dikerjai habis-habisan dan di rayakan dengan pelemparan telur, tepung dan zat warna antah berantah serta berbagai zat tambahan lain ke si orang yg ulang tahun. Saia masuk dalam incaran kala itu karena selama ini saia termasuk orang yang aktif mengerjai orang yang ulang tahun dan berusaha keras untuk melempari telur kepada yang lagi ulang tahun. Dan datanglah hari ulang tahun saia, sepertinya akan menjadi aksi balas-dendam dari teman-teman saia. Sebenarnya saia lupa hari itu saia ulang tahun. Saia baru ingat saat istirahat, teman-teman saia mulai tersenyum penuh kemenangan dan tak sabaran. Sumpah, waktu itu saia sedikit takut juga. Satu kelas sepertinya memiliki aura dendam yang luar biasa pada saia kala itu. Untungnya, saia beruntung hari itu. Di pelajaran terakhir, ada latihan soal, yang selesai duluan boleh pulang lebih dulu. Saia berusaha keras menyelesaikan latihan itu secepat mungkin lalu menjadi yang paling pertama pulang dan lari terbirit-birit ke rumah. Entah lah saia tidak tau apa yang telah dipersiapkan teman-teman untuk balas dendam . yang saia tahu misi balas dendam itu gagal. Senang rasanya,ha ha ha.saia senang bukan karena ulang tahun tapi karena berhasil menggagalkan rencana teman-teman saia.

2.Ulang tahun ke-17 Saia bersekolah asrama kala itu. Tepatnya di kelas X.1, dipagi ulang tahun saia kami belajar mata pelajaran agama yang gurunya salah satu guru favorit saia. Sulit untuk tidak jadi murid penggemar beliau. Beliau begitu baik, alim, saleh dan sabar. Melihat dan mendengar beliau bertutur kata saja, menurut saia cukup untuk membuat emosi reda. Salah satu teman saia menyampaikan kepada guru tersebut saia berulang tahun. Sang guru mengucapkan selamat pda saia dan menghadiahi saia sebingkis doa yang hingga saat ini masih saia kenang. Menurut saia itulah kado paling istimewa yang saia terima di hari ulang tahun kala itu, sebingkis doa tulus dari seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

3.Ulang tahun ke-19 Pertama kalinya saia keluar dari asrama. Untuk Bimbel di sebuah kota yang memiliki panorama alam yang sangat indah. Mengapa ulang tahun ini begitu special? Karena saia memperoleh surprise party yang special dari seorang sahabat. Di tepi pantai, kala sunset dan ditemani deburan ombak (lebay…he he) sang sahabat menghadiahi saia ucapan selamat dan sebuah black forest lucu yang menurut saia sangat special. Kala itu gak terasa saia harus meninggalkan umur belasan dan memulai langkah menuju kepala dua.

4.Ulang tahun ke-20 Banyak hikmah yang saia peroleh di ulang tahun ini. Satu tahun berada di pulau lumayan jauh, menyandang predikat mahasiswa cukup membuat saia lumayan shock menjalani hari-hari kal itu. Tepat di hari ulang tahun, bukan hadiah dan ucapan yang saia peroleh tapi sebuah ujian yang cukup mebuat saia termenung diam. Saia kemalingan, yah laptop lengkap dengan Handphone di bawa kabur sang maling tepat sehari sebelum ulang tahun saia. Menikmati pertambahan umur tanpa memiliki handphone dan kehilangan laptop menjadi sebuah kenangan yang gak mungkin saia lupakan. Tapi, syukurlah saia memiliki teman-teman yang selalu siap menghibur dan membantu saia di kala susah (thanks friends…). Ulang tahun saia di rayakan sederhana di sebuah kafe dan salah seorang teman berkata ‘memasuki umur 20 tahun, seseorang biasanya emang di beri cobaan yang lumayan berat karena dia akan menapaki jalan menjadi manusia dewasa’. Saia terdiam dan berpikir, memang benar sih, setahun sejak saia merayakan ulang tahun yang ke-19, saia merasa begitu banyak hal dan pengalaman yang saia peroleh. Beberapa diantara emang pernah membuat saia berpikir, betapa beratnya hidup ini sedangkan beberapa lainnya membuat saia semakin bersyukur pernah ada dan berkesempatan mengalaminya. Banyak hikmah saia peroleh kala itu, salah satunya bahwa kehilangan tidak selamanya menyakitkan bahkan kehilangan dapt mengantarkan kita ke sesuatu yang lebih baik.

Saia masih tak bisa menebak akan seperti apa ulang tahun ke-21 saia. Apakah saia akan melewatinya?dengan senangkah?dengan penuh perjuangan kah?dengan penuh kejutankah? Biarlah semua itu menjadi rahasia takdir. Seperti apapun nantinya, saia akan terus bersyukur atas setiap detik yang terus mengalir, setiap tahun umur yang terus bertambah memperpanjang jumlah pengalaman yang saia dapat, memperbanyak teman yang saia kenal semoga juga menambah berkah bagi saia dan segala di sekitar saia.

cinta & logika

saat cinta begitu membebani
kala kasih begitu menyiksa
ketika sayang benar-benar menyulitkan
mengapa tidak ada seuntai logika menyusup
memberikan pilihan lebih baik

Pengorbanan menjadi wajar
penderitaan terasa biasa walau menyiksa
karena
semua demi cinta, kasih dan sayang
kenapa logika tak hadir?
mungkin sekejap, sekilas
mungkin hanya untuk memperlihatkan
ada pilihan yang lebih baik

Airmata bak hiburan
Tangisan seperti hanya tontonan
mengapa logika tak datang
untuk singgah sebentar
menghapus airmata
membuang duka lara
dan
membawa pilihan lebih baik
atau
lebih buruk

gw bosan sekolah

Dear sahabat,
Ini sebuah cerita tentang seseorang yang gamang akan pilihannya, hidupnyaa dan perjuangan beratnya.
Alea, pulang sekolah siang itu. Membanting tasnya ke atas tempat tidur, dengan wajah penuh tekukan ia menuju meja belajar, menyalakan computer dan memulai koneksi internetnya. Hal yang selalu menjadi pelarian saat ia BETE. Komputernya langsung menampilkan sebuah search engine yang popular. Ia mengetik kata ‘bosan sekolah’. Alea bête, alea marah dan alea bosan dengan sekolahnya. Dengan guru-guru yang tiada henti memberikan tugas dan ujian. Dengan teman-temennya yang sudah semakin berubah akhir-akhir ini. Dan sebuah tulisan inilah yang ia temukan

Gw bosan sekolah..
Benarkah? Ato sebenarnya gw bosan menjadi anak sekolahan. statement kedua lebih gw pilih. Gw bosan menjadi murid yang bergantung pada orang tua soal uang bulanan, gw bosan menjadi anak sekolahan yang nggak bisa ngapa-ngapain tanpa uang kiriman orang tua, gw bosan, benar2 bosan harus ngerepotin mereka. Gw bosan kalo terus membelanjakan uang mereka, gw capek terus membuat mereka berjuang dan berkorban demi gw. Gw makin hari makin nggak bisa menerima bahwa mereka menderita karena gw. Rumah gw di jual karena gw. Ibu gw harus jualan ampe malam karena gw. Ayah gw berhenti bekerja karena gw. Adek gw nggak bisa dapet perhatian dan kasih sayang dari orang tua gw karena gw, padahal dia masih kecil dan itu haknya. Semua itu karena gw.. karena gw kuliah…karena gw terus sekolah.
Lalu benerkah gw ingin lepas dari ini semua? Gw sendiri juga bingung. Apa benar gw tega membohongi mereka dan mulai bekerja? Apa benar gw sanggup menyia-nyiakan perjuangan dan pengorbanan mereka dan bekerja tanpa gelar? Apa benar gw tega menghancurkan mimpi mereka untuk melihat gw diwisuda dengan predikat Cumlaude? Apa iya gw sanggup melihat mereka menangis saat gw bilang ‘Yah, aku pengen berhenti kuliah dan kerja aja’? apa iya gw bisa ngebahagiain mereka dengan meninggalkan bangku kuliah ini? Seberapa malu mereka pada tetangga saat tau anaknya batal jadi sarjana?
Gw terlahir sebagai nomor dua, nggak pernah ada harapan bagi gw dari keluarga sejak kecil. Gw tumbuh, menjalani sekolah, meraih apa yang gw pengan raih, menuju apa yang emang gw pengen tuju sesuka gw. Tanpa beban, tanpa ekspektasi lebih dari keluarga bahkan orang tua gw jarang datang bwt ngambil raport ke sekolah bahkan bwt liat peringkat berpa sih gw semester ini di sekolah pun jarang.
Semua baik-baik aja. Gw dapetin apa yang gw maw, gw raih apa yang gw pengen, gw nggak pernah peduli banggakah orang tua gw? Peduli kah orang tua gw. Lalu semua berubah saat gw di bangku kuliah. gw di sini karena keinginan gw, gw menuju apa yang gw ingin tuju. Di sini, di sebuah kota yg gw harap memberi banyak hal bagi gw, termasuk kesuksesan. Tapi semua ini kini berbeda. Gw di kota ini juga karena perjuangan mereka, karena gw memberikan sedikit derita ke mereka saat gw mulai butuh laptop bwt kuliah, saat gw butuh duit bwt beli buku-buku untuk kuliah saat gw kehabisan uang bulanan untuk makan, gw menyiksa mereka. Dan puncaknya rumah gw dijual, alasan paling logis pendidikan gw butuh dana, kuliah gw butuh duit. Dan sekarang mereka tinggal di rumah yang nggak sebagus dulu, di rumah yang nggak sebesar dulu, di rumah yang nggak senyaman dulu. Semua kerena gw karena gw di sini dan karena gw terus sekolah. Ibu gw yang semula ibu rumah tangga sejati harus bekerja hingga larut malam. Ayah gw yang sakit-sakitan sekarang nggak bisa ke dokter dengan teratur, karena kami nggak punya uang seperti dulu dan lagi-lagi semua karena gw kuliah dan gw terus sekolah.
Hampir dua tahun gw menyimpan ini semua, gw bingung, gw merasa bersalah, gw merana dan gw sebenarnya tersiksa.
Beberapa bulan lalu gw baru aja pulang ke rumah, melihat apa yang selama ini gw bayangin, gw sesalin dan gw makin tak bisa berkata-kata. Gw nggak hanya merasa berslah, tapi gw benar-benar bersalah. Saat gw dengar ibu gw bilang nggak ada yang perlu disesalin tapi dia takut suatu saat nanti dia nggak bisa lagi nyari duit bwt sekolah gw. Gw makin gamang dan hancur. Hati gw benar-benar hancur. Mereka nggak pernah punya salah apa-apa punya anak seperti gw, ibu gw nggak pernah punya salah apa2 karena ngelahirin gw. Dia orang yang baik, dia ibu terbaik yang pernah gw kenal. Kenapa gw ngerepotin mereka akhir2 ini? Orang yang bertahun2 dulu gw anggap bukan apa2. Saat gw mulai menganggap mereka berarti, saat gw mulai sayang mereka, gw membebani mereka. Menyesalkah gw? Entahlah, satu yang jadi obat hati bagi gw bahwa gw berada di jalan yang benar. Gw punya Allah yang pasti bisa jagain keluarga gw sebaik-baiknya dan juga jagain gw sepanjang wktu. Gw nggak punya materi apa-apa, gw sampai pada titik dimana gw nggak bisa ngapa2in, titik dimana gw tak berdaya atas semua ini.
Di tahun pertama gw pernah strees, saat berpikir mengapa ini terjadi kepada gw? Kenapa gw bukan anak pejabat yang nggak punya masalah ama materi. Yang kalo butuh duit tinggal minta, yang kalo kurang uang belanja tinggal minta, yang saldo di tabungannya nggak pernah habis. Lalu gw berpikir apakah materi berbanding lurus dengan cinta dan kasih sayang keluarga gw buat gw. Kalo gw anak pjabat mungkin gw nggak kan punya ibu yang rela kerja sampe malam untuk nyari duit bwt sekolah gw. Seorang ibu yang pantang menyerah, seorang ayah yang sabar dan tabah. Cinta dan kasih sayang mereka lebih dari apapun bagi gw.
Gw benci kenapa gw mengangis karena gw nggak punya duit bwt makan, mengapa gw sedih karena nggak punya uang buat beli baju padahal gw memperoleh cinta dan kasih sayang tanpa batas yang mungkin Paris Hilton pun nggak pernah dapat dari orang tuanya. Gw punya orang-orang yang cinta dan sayang ama gw, meski mungkin gw nggak punya materi yang berlebih.
Gw nggak akan pernah bosan sekolah.
Karena keluarga gw nggak pernah berhenti berjuang untuk sekolah gw. Orang tua gw nggak pernah berhenti mencintai dan menyayangi gw. Dan Gw juga sadar sesadar-sadarnya bahwa gw juga nggak ingin berhenti berjuang dan akan terus mencintai dan menyayangi mereka.
Selagi gw masih punya waktu dan kesempatan ini
Gw akan membahagiakan mereka….

Alea tertegun, menarik nafas lalu tersenyum. Ia menyesal telah pernah berpikir bosan untuk sekolahnya. Padahal ada seseorang di luar sana yang harus banyak berkorban dan berjuang untuk kuliah, untuk terus sekolah. Alea juga tak mungkin bosan sekolah, karena ia juga tak ingin berhenti berjuang dan terus membahagiakan bunda. Mewujudkan impiannya kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di negeri ini. Alea bangkit dari duduknya dan mengambil buku kumpulan soal SNMPTN yang beberapa hari ini ia cuekin.

Mereka punya cerita berbeda, cita-cita berbeda, alasan berbeda dan kondisi yang berbeda. Tapi, yang penting mereka sama-sama nggak akan bosan sekolah dan tak pernah berhenti berjuang.